Pages

Tuesday, November 30, 2010

Tentang Orang Tua

"Bersihkan penyimpangan seksual!!!" "Bersihkan penyimpangan seksual!!!"


Seruan-seruan ini memekakkan telinga. Keluar dari mulut para perempuan berjilbab yang sedang menggelar aksi peringatan Hari AIDS Sedunia yang jatuh hari ini. Dengan membawa spanduk bertuliskan huruf Arab yang entah apa bacanya, saya sendiri tidak tahu. Jalanan Bunderan HI yang tidak ada mereka saja sudah macet, hari ini semakin macet. Apa yang mereka pikirkan..

"Hey Henny, kamu kok baru dateng?" Bos kepala bagian berteriak dari kejauhan sambil berjalan mendekati saya.

"Iya maaf Pak, tadi ada sedikit hambatan di Bunderan HI. Padahal aku berangkat seperti jam biasanya dari rumah.."

"Oh iyaaa. Aku tadi lihat tweet dari kamu kok. Hehe. Bersihkan penyimpangan seksual!" Seru Pak Harry, bos saya yang berusia setengah baya sambil mengepalkan tangan ke atas seakan-akan dia tengah berdemo.

Ada gosip di kantor bahwa Pak Harry jatuh hati pada saya. Tapi bukan itu yang membuat saya tidak betah berada di kantor ini. Jiwa saya bukan di sini, jiwa saya di luar sana.. Saya tidak bisa bekerja nine to five di belakang meja, mendengarkan konflik politik kantor, intrik-intrik licik dan semua protokoler kantor ini.

Saya sering merinding jika berada di ruangan ini sendirian. Maklumlah, saya bekerja di Istana.Sebuah bangunan kuno peninggalan jaman Belanda yang menyimpan segudang misteri..
Teman-teman dan saudara-saudara saya mengira bahwa bekerja di Istana itu menyenangkan. Berada di Ring Satu pemerintahan tertinggi republik ini. Hahhh apa yang menyenangkan. Untuk pergi ke toilet saja, saya harus menunggu 15 menit saat si bos besar sedang lewat..iya bos besar, Pak Presiden..

Latar belakang pendidikan saya adalah geologi, tetapi kenapa saya harus bekerja di sini ya? Seharusnya saya brada di kilang minyak, atau daerah pertambangan, atau paling tidak bekerja di kantor urusan geologi itu.. Orangtua saya, mereka tidak mau bahwa anak perempuan mereka satu-satunya bekerja di lapangan, menjadi hitam, kusam, tidak terawat. Dunia geologi terlalu banyak bahayanya bagi mereka. Ya Tuhan, apa mereka pikir saya akan terjun menyelam di dalam minyak bumi, atau menyelupkan tangan ke dalam magma gunung berapi ya?

Sebenarnya serba salah menjadi anak perempuan satu-satunya. Saat saya memutuskan memilih jurusan geologi saja, tentangan datang bertubi-tubi dari orang tua. Kakak-kakak laki-laki saya ikut-ikutan menolaknya. Hahhh banci! Saya kira dulu enak menjadi anak bungsu, tetapi ternyata anggapan itu salah total. Segala keputusan saya terkekang oleh keputusan orang tua yang sebenarnya bertindak seperti Tuhan di rumah. Jika saya sekali saja tidak menuruti, mereka akan kemudian mengungkit segala kerja keras mereka menghidupi saya selama ini, kenapa saya sebagai anak tidak bisa membalasnya dengan menuruti permintaan mereka. Dilema yang sebenarnya tidak bisa dipilih. Ini berhubungan dengan masa depan saya, kenapa mereka seperti itu..

Mana orangtua mau tahu soal hak asasi manusia? HAM itu haram bagi orang tua. Maaf jika saya salah tentang ini, namun inilah yang mondar-mandir di pikiran saya selama ini. Soal kebebasan beragama saja.. Mana ada orang tua yang rela anaknya berbeda agama dari mereka? Atau bahkan menjadi atheis?

Saya rasa bukan soal penyimpangan seksual yang perlu dibersihkan. Perempuan-perempuan berjilbab itu perlu membersihkan stigma yang ada di otak mereka soal itu. Sama halnya dengan orang tua saya yang perlu membersihkan stigma di pikiran mereka bahwa anak perempuan yang bekerja di lapangan adalah 'bukan perempuan'. Bahwa anak bukanlah sebuah investasi untuk citra orang tua..

3 comments:

Annelis Brilian said...

you read my mind, don't you?

Drestadyumna said...

And anybody else. Yeahhh

Anonymous said...

hmmmm *mikir panjang* *kepanjangan*

Post a Comment