Pages

Tuesday, June 1, 2010

Nasionalisme, Sebuah Rasa

Siapa yang tidak kenal Indonesia?

Globe Indonesia Blog Negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri atas 17.000-an pulau, terbentang di atas garis katulistiwa yang menjadikan wilayah negara ini mendapat sinar matahari sepanjang tahun, menjadi negara dengan hutan hujan tropis terbesar di dunia dengan keanekaragaman hayati terlengkap di dunia. Indonesia terletak di persimpangan jalur pelayaran dunia, menjadikan negara ini memiliki posisi yang sangat strategis. Dengan populasi lebih dari 220 juta jiwa pada tahun 2006, Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar keempat di dunia. Indonesia sekaligus menjadi negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, meskipun negara ini bukan negara Islam.

Tidak ada negara yang meragukan kedigdayaan Indonesia. Terdapat 5 agama dan satu aliran kepercayaan yang diakui di sini, dan semua hidup berdampingan dengan damai. Tidak ada negara yang tidak mengagumi ini. Ada ratusan bahasa daerah dan suku bangsa di sini, tapi semua dapat saling berkomunikasi dengan bahasa persatuan Bahasa Indonesia. Sebaran pulau yang sedemikian banyak tidak kemudian menjadi pemecah bangsa ini, yang dulu terkenal sebagai negara maritim. Lautan telah mempersatukan semua pulau menjadi Nusantara. Indonesia menjadi contoh terbaik bagi pelaksaan demokrasi di negara berkembang. Indonesia telah sukses menggelar pemilihan umum secara langsung paling rumit sepanjang sejarah dunia.

Ekonomi Indonesia yang pada krisis ekonomi 1998 sempat terpuruk kemudian perlahan tapi pasti mulai bergerak naik. Krisis ekonomi global sama sekali tidak mengguncang perekonomian sang permata katulistiwa. Ditunjang oleh unit-unit usaha kerakyatan, pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5 besar tertinggi di dunia. Indonesia menjadi satu-satunya negara ASEAN yang masuk dalam G-20, perkumpulan 20 negara dengan perekonomian terkuat di dunia.

Di balik semua kesuksesan itu, Indonesia masih memiliki banyak pekerjaan rumah. Tidak ada gading yang tidak retak. Hutang negara mencapai Rp 1700 tiliun, adalah jumlah yang spektakuler. Masih ada jurang pemisah antara Jakarta dengan daerah. Korupsi masih merajalela. Budaya feodal masih sangat kental dijumpai di bumi pertiwi. Mental bangsa yang belum pasca 350 tahun penjajahan. Mutu pendidikan yang tidak ada tanda-tanda perbaikan semakin memperburuk keadaan sumber daya manusia Indonesia. Birokrasi yang rumit telah membuat kemajuan bangsa ini juga tidak bisa maksimal.

“Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. “

Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 yang hanya menjadi sekedar tulisan. Banyak kekayaan negeri ini yang dikelola oleh pengusaha asing. Walaupun mereka hanya membantu mengelola, itu hanya sebuah kedok untuk mengeruk kekayaan tanah Indonesia yang kaya ini.

Pasal 34

(1) Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara.

(2) Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan.

(3) Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.

Mana pelaksanaanya? Masih banyak fakir miskin dan anak-anak yang terlantar di negeri ini. Masih banyak rakyat yang tidak mendapat penjaminan sosial, dilecehkan dan dicemooh. Masih banyak rakyat yang berteriak meminta fasilitas kesehatan dam fasilitas umum yang memadai dan terjangkau.

Masih banyak lagi masalah sosial yang ada di bangsa ini, baik yang terangkat ke permukaan maupun yang masih tersembunyi, atau memang sengaja disembunyikan. Belum lagi negara ini terletak di zona rawan bencana, yang sewaktu-waktu dapat menghancurkan semua proses pembangunan yang sedang berjalan.

Rakyat negara Indonesia terlalu banyak menuntut ke pemerintah. Apakah mereka kira pemerintah itu Tuhan? Pemerintah juga adalah wakil rakyat yang hanya bertugas menjaga negara ini agar berjalan tetap pada patok-patok yang sudah disepakati oleh para Founding Fathers. Semua rejeki, kesuksesan dan keberhasilan harus diusahakan sendiri oleh rakyat itu sendiri. Pemerintah hanya membantu menyediakan fasilitas yang sekiranya sesuai dengan kemampuan negara. Apakah rakyat terlalu buta untuk melihat bahwa negaranya belum memiliki kemampuan yang berlebihan seperti negara-negara maju, dimana rakyat pengangguran pun mendapat tunjangan.

Tidak ada gunanya menggembar-gemborkan kekayaan negeri jika kita tidak mampu untuk mengolahnya dengan baik. Hutan dihabiskan hanya untuk penambangan. Tanah gambut berusia jutaan tahun rusak karena ‘proyek penggendutan perut’. Sadarkah Anda, bahwa alam adalah penyedia bahan utama kebutuhan hidup. Minyak bumi yang dibuat dalam waktu jutaan tahun dapat dihabiskan hanya dalam 200 tahun. Kepunahan banyak spesies telah membuktikan bahwa alam kian rusak hanya untuk sebuah pemenuhan nafsu.

Apa gunanya 5 agama dan satu aliran kepercayaan jika manusia Indonesia masih saja merusak alam, sebuah maha karya sang Ilahi?! Apa gunanya bahasa persatuan Bahasa Indonesia jika masih banyak pelanggaran aturan tertulis di negeri ini?!

Apa gunanya sinar matahari yang berlimpah jika hanya digunakan untuk menjemur padi?! Bukannya dimanfaatkan untuk menciptakan sebuah energi alternatif yang lebih berguna bagi kemajuan teknologi.

Apa gunanya negara muslim terbesar jika masih banyak pengeboman oleh muslim?! Islam hanya mengajarkan kedamaian, bukan kekerasan.

Apa gunanya pemilihan umum langsung jika mahasiswa masih membakar ban bekas untuk mengungkapkan aspirasi mereka?! Demokrasi adalah sebuah konsep kerakyatan yang baik, bukan kebebasan yang indispliner.

indonesia

Dari kecil, saya hanya mendapat doktrin mengenai kebesaran Indonesia, tapi tidak tentang bagaimana sikap yang harus dimiliki seorang warga negara untuk terus menjaga kebesaran itu. Nasionalisme yang tumbuh hanya sebatas rasa tanpa sebuah tekad.

Tapi setidaknya, ada daftar mengenai kelebihan Indonesia dalam benak saya. Sekarang saatnya bagi saya, bagaimana caranya menambah isi daftar itu. Bagaimana menambah panjang daftar rekor-rekor kedigdayaan Indonesia, setidaknya untuk Wikipedia. Seburuk apapun rupa seekor ulat, suatu saat dia akan berubah menjadi kupu-kupu yang cantik, terbang melesat diantara bunga-bunga yang wangi dan indah.

 

Jakarta, y&c

0 comments:

Post a Comment