Pages

Monday, May 31, 2010

Call Her, Gebi Meidina Sabarthin

Q (other): Lo kenal Gebi gak?
A (me): Hmmm, gak terlalu, cuma tau aja

Ingin rasanya menjawab seperti itu, tapi tidak bisa. Saya terlalu peduli dengan sosok kecil mungil tuir yang satu itu.

__________
‘Jangan nanya ke gw tentang Gebi!’

Ingin rasanya kalimat itu keluar dari bibir saya, tapi tidak bisa. Saya terlalu mengenalnya.

__________

‘Gebi yang mana nih?’

__________

32036_1421350087468_1044176649_1272179_4525035_n Hahhh, mana mungkin saya tidak tahu bahwa Gebi itu yang dibicarakan orang-orang. Sosok perempuan karir yang sukses membina rumah tangga dengan suaminya yang seorang jutawan berlian. Fotonya ada di setiap edisi majalah wanita di Indonesia. Kisah heroiknya sebagai super mom banyak dikutip sebagai panduan bagi perempuan Indonesia.

Dulu saya mengenal Gebi sebagai sosok yang fragile, namun sekarang semuanya berbalik 180 derajat. Dia telah tumbuh sebagai perempuan terhormat yang disegani banyak orang. Kecantikan yang dulu digembar-gemborkannya sekelas ‘TKW’, sekarang tidak ada lagi. Kulitnya flawless, bukan oleh berbagai macam obat kulit, namun karena auranya yang begitu menawan. Tubuhnya bersinar bak dewi, rambutnya lebat terurai indah memancarkan cita rasa Ilahi yang tidak terbantahkan.

Dulu siapa yang tidak kenal Gebi, kerjanya hanya di kosan, menghabiskan waktu hanya untuk tidur, makan dan bercengkrama. Tapi itu yang terlihat dari luar, tidak banyak yang orang ketahui kecuali teman-teman dekatnya, termasuk saya. Sesungguhnya dia adalah seorang perempuan tangguh yang belum menemukan identitas dirinya. Lihat dia sekarang. Dia adalah Srikandi masa depan.

Bangga rasanya bisa menyaksikan teman saya itu bisa sesukses sekarang. Setidaknya dia bisa mendayagunakan semua kemampuan dirinya untuk menggerakkan perempuan lain agar tidak mau kalah oleh nasib. Gebi telah membuktikannya, semoga perempuan Indonesia yang lain bisa. Di saat orang berlomba-lomba ingin mengenal sosoknya, saya tinggal telepon HP pribadinya, bisa langsung memukul-mukul pundaknya saat tertawa bersamanya. Ok, sekarang saya merasa sangat beruntung.

 

 

Dikutip dr epilog buku Gebi Sang Malaikat karya Yogi Cerdito terbitan tahun 2020.

 

HAPPY BIRTHDAY GEBI MEIDINA SABARTHIN

See you in 2020, just like this short story :)

 

Jakarta, y&c

1 comments:

gebimeidina said...

ahhh jiwiiillll...
gw berkaca-kca bacanyaa. thanks a lot jil. i mean it. you're one of my very best!
tapiiii... kerja gw ga cuma tidur doang otooongg. sialan. ahhaha.

see you in 2020 :)

Post a Comment