Pages

Sunday, December 30, 2012

Is this quarter life crisis or what?

Hi Tienda.

It's been a longgg time since I visit this blog. Blame the job. :)

Anyway...

I have this feeling. The feeling that I don't know how to describe.

I feel insecure, but I don't know which part of mine that feel that. I feel insecure, but I don't know why.

I just told one of my friend about this, then she gave me that scary answer. "Quarter life crisis" Yes I'm 25, and yes I already knew about that kind of crisis but I don't know the circumstances would be this hard.

When you see Path, you feel lonely. When you play with your adorable dogs, you cry. And when you hear some news, you get angry at a moment.

You can't sleep till 3am, like you gonna have a final test in the morning. You wake up in the middle of your sleep. You think, but you don't know what are you thinking about. It's just blank. Zero.

I feel like I have no one. I feel like I don't know anymore about my friends' life. I lost in track.

Yes now I'm in this situation.

I don't know how to pass this phase, but they said it will stay for at least for two years.

Yeah. Fuck up.

Wednesday, April 27, 2011

Kompensasi

Kompensasi.. Banyak orang mengartikannya sebagai imbalan. Memang. Imbalan itu bisa dimaknai secara positif, maupun negatif. Semua cenderung relatif.

Dalam sebuah artikel di sebuah surat kabar nasional, menceritakan mengenai kompensasi. Istilah kompensasi yang ternyata juga dipakai dalam dunia ekologi tumbuhan. Artikel ini menceritakan mengenai kompensasi yang dirasakan pohon, atau tanaman yang diserang oleh hama ulat bulu. Pepohonan yang kemudian meranggas karena digerogoti ulat bulu, ternyata akan tumbuh lebih kuat, berdaun lebih lebat, dan berbuah dengan kuantitas dan kualitas yagn lebih baik. Ini disebut dengan istilah “Kompensasi”. Kompensasi yang positif.

Lantas apa kompensasi yang negatif? Entahlah. Saya sendiri tidak begitu mengerti mengenai positif dan negatif. Walaupun biasanya setiap orang cenderung lebih mudah menilai semua hal yang negatif dibandingkan yang positif. Orang akan lebih mengingat hal yang negatif dari sesuatu hal, atau dari orang lain, ketimbang mengingat hal yang postif dari sesuatu hal atau orang lain tersebut..

Teror bom mulai kembali marak. Layaknya tren baju spring yang sedang up to date, berita teror bom kembali sering menghiasi layar televisi, surat kabar dan timeline Twitter baru-baru ini.

Untunglah isu-isu bom ini tidak kemudian menenggelamkan Indonesia seperti yang sudah-sudah. Teror demi teror ini memberikan kompensasi yang nyaris sejajar dengan istilah “kompensasi” pada dunia ekologi tumbuhan yang telah dibahas di atas tadi. Teror-teror bom tersebut justru semakin menyadarkan rakyat Indonesia akan sebuah ancaman. Ancaman yang menginginkan perpecahan di negeri ini. Ancaman yang ingin mengahncurkan ke-Bhineka-Tunggal-Ika-an di zamrud khatulistiwa.

Terimakasih untuikpada tukang teror--saya sebut tukang karena sepertinya orang-orang tidak berguna seperti ini mulai menganggap bahwa menjadi teroris meruapakn profesi—telah menumbuhkan semangat pemberantasannya. Suicide mission untuk para tukang teror itu. Mau melibas 230juta rakyat Indonesia? Jangen coba-coba. Jika kalian tidak suka dengan perbedaan di negara ini, jika kalian tidak suka dengan—yang katanya—kemungkaran di negeri ini, silahkan cari negeri lain yang semua penduduknya tidak punya otak. Tidak di negeri ini. Negeri ini bisa tumbuh sebesar saat ini justru karena banyaknya perbedaan. Jika tidak karena adanya etnis Tionghoa, perdagangan tidak akan pernah sukses. Jika tidak karena adanya umat Kristiani, departemen store tidak akan bisa membagikan bonus untuk para karyawannya karena peningkatan penjualan saat Natal. Jika tidak karena F.X. Silaban, Masjid Istiqlal tidak akan berdiri. Dan yang terpenting, jika tidak karena para tukang teror, saya tidak akan mampu mempunyai pemikiran seperti yang tertuang dalam tulisan ini.

 

Jakarta,

y&c

Friday, March 25, 2011

The Cruise series. The meeting. (Part 1)

queen-mary-2

Vivo City yang besar sudah mulai terlihat kecil. Sudah sekitar 15 menit yang lalu kapal ini meninggalkan Singapore Cruise Centre, dermaga yang diperuntukkan untuk tempat bersandar kapal pesiar dari seluruh dunia. Relieved..

Untuk kali pertama saya bisa berlibur bersama keluarga setelah kurun waktu 10 tahun. Inilah saat yang saya tunggu.. seharusnya. Namun mungkin sekelumit masalah yang saya tinggalkan di belakang, masih menumpuk, dan siap menampar saya sekembalinya saya di tanah Singa itu. Pekerjaan saya sebagai seorang editor di sebuah majalah lifestyle ternama memang telah menyita waktu saya. Waktu untuk sekedar me time, waktu luang bersama keluarga, apalagi waktu untuk bersama pacar.

Saya tidak merasa tinggal di kawasan Asia Tenggara. Saya seperti tinggal di Jepang, di mana waktu sangat cepat datang dan pergi. Everything’s rushing in this island. And I need a break. Whether there’s still a huge homework back then, I don’t care. It’s okay to break rules sometimes though.

Masih ada 72 hari perjalanan sebelum Queen Mary 2 ini sampai di New York. Entah apa rasanya saat saya bisa melihat Patung Liberty menyambut kapal ini datang. Queen Mary 2 masih memegang status sebagai kapal pesiar terbesar yang mengarungi lautan dunia sampai saat ini. 21st century’s Titanic. Ada yang menarik, kapal ini memiliki planetarium. Yes, this is the first floating planetarium in the world. Amazing. Watching the star constellations in the middle of the darkness of the ocean, epic!

Queen Mary 2 akan bersandar di 21 dermaga kapal pesiar ternama dunia, sepanjang Laut China Selatan, Samudera Hindia dan Atlantik.

 

 It’s gonna be a long journey…

******

1st STOP. Laem Chabang,Thailand.

Setelah menempuh perjalanan laut 47 jam, Queen Mary menyandar di Laem Chabang International Terminal pukul 8 pagi. Laem Cabang adalah sebuah kota pelabuhan. Hiruk pikuk kapal kontainer sudah hilir mudik di pelabuhan yang terletak di Teluk Thailand itu. Letaknya cukup jauh dari Bangkok. Saya agak kapok untuk bepergian di tanah Thai. Kebanyakan orang Thai tidak bisa berbahasa Inggris, dan itu sangat menyulitkan. Kapal akan bersandar agak lama, sekitar 10 jam.

What should I do then? Goshhh…

Ayah dan Ibu sudah rapi, mengenakan sunglasses dan topi ala turis dengan kamera yang digantungkan di leher. They’re so exciting.

Kamu gak turun, dek?

Gak ah. Nanti aja. Ayah ibu duluan aja. Kak Tisa dan Kak Rio mana?

Mereka sudah tunggu di depan lift. Ya udah nanti kalo kamu sudah turun, kasih tau ayah ibu ya.

Yeah, okay.

Saya melengos, tapi masih bisa merasakan bahwa kedua orangtua saya saling bertatapan mata heran. Mungkin mereka berpikir, ini adalah liburan yang saya rencanakan, tapi kenapa saya terlihat tidak bernafsu. Hell..

Saya memutuskan untuk berjalan-jalan di dek kapal. Saya masih sibuk dengan BlackBerry saya yang sedaritadi terus kedatangan email kerjaan. Saya agak menyesal membawa BB ini. Kalau saja bukan karena Peter yang memaksa..

Ting. BBM masuk..

How’s your trip beib? Pogoshipo.. (Pogoshipo, bahasa Korea yang artinya ‘kangen’)

So so.. Don’t really like this 1st stop. Kinda boring. Hehe. Miss you too, P. XOXO

Saya bersandar ke railing. Sesekali melihat ke pemandangan Laem Chabang yang tidak kalah kumuh dengan Marunda di Jakarta. Perhatian mata saya sedang terpusat ke lingkaran di jati manis tangan kiri. I’m taken. Bound. Gara-gara lingkaran ini saya harus membawa BB. Karena lingkaran ini saya harus memboyong keluarga saya pergi ke New York, tempat Peter tinggal. Senyum tipis..

Saya terus memutar-mutar cincin ini. Memandanginya dan tidak pernah bosan.

Hey engaged boy!

Saya kaget dan reflek langsung menyembunyikan tangan kiri saya ke dalam kantung celana.

Me?

Yeah you. Who else..

Is there anything I can help?

Naaa. Just want to say hi. I’ve been watching you since you’re doing monologue mimics while staring on your smartphone.

Saya hanya bisa senyum kepadanya kemudian membuang muka ke arah Laem Chabang.

I love this town. Busy yet traditional.

So typical. My fiance feel the same way.

Haha. You’re funny.

Tertawa kecil.

May I see your left hand?

What for?

Just curious..

Saya memberikan tangan kiri saya kepadanya. Dia membaliknya dan meraba telapak tangan saya.

Hmmm.. You’re going to see a man in this ship.

Ah man, that’s cheesy. You want me to ask you, ‘Ohhh who’s that man?’ And then you’ll answer, ‘He’s right in front of you.’ Are you livin in 90’s? Come on!!!

Oh wow. You’re such a sidekick! Damnnn. This trick always works.

Yeahhh it works to an easy man, but not me.

Anyway, I’m Sean. You?

Dia menyodorkan tangannya untuk bersalaman.

Why would I shake your hand and tell you my name?

Because you want to…

Ah mata itu. Menatap tajam ke dalam mata saya.. Sigh.

A.. a.. I’m Wisnu.

See? I’ve told yaaa. It’s nice to meet you. I have to go.. See you around!

Ok. Bye.

Dia sudah menjauh. Saya kembali memandangi cincin ini. Sebenarnya terbersit dalam pikiran ini.. Apakah keputusan saya ini sudah tepat. Apakah Peter memang pasangan hidup saya…

Di kejauhan, rupanya Sean menatap saya tanpa saya ketahui. He’s smiling.

 

CONTINUE….

 

Jatinangor

y&c

Tuesday, March 22, 2011

2PM, Eksistensi dan Pengakuan

Saya mendapatkan pengalaman yang sangat berharga hari Sabtu, 19 Maret 2011 lalu. Saya termasuk diantara mereka yang datang ke konser Live & Rockin’ yang diselenggaran BlackBerry, bekerjasama dengan Ismaya Live. Ada sederet artis yang tampil: 2PM (boyband asal Korea Selatan), Shontelle, Taio Cruz dan Suede.

Saya sangat antusias dengan konser ini. Dua artis favorit saya, 2PMdan Suede hadir di sana. Singkat cerita, saya sudah berada di dalam Hall A JIEXPO Kemayoran Jakarta.

****

Artis: 2PM. Segmentasi penonton: ABG (Anak Baru Gede) labil. Antusiasme penonton: sakit jiwa.

Saya tidak menyangka akan sebanyak itu penonton 2PM. Bahkan untuk mengangkat tangan pun sulit. Saya terlalu sibuk untuk menjaga keseimbangan berdiri diantara baunya keringat para ABG cewek itu (saya masih heran kenapa masih muda tapi mereka sudah memiliki bau badan yang menjijikkan). Saya juga terlalu sibuk untuk menyingkirkan tangan yang memegang kamera yang sibuk merekam penampilan 2PM. Pun juga saya sibuk menutup telinga tatkala ada seorang ABG yang berteriak (misalkan) “CHANSUNGGG” tepat di samping telinga saya.

Ada satu fenomena yang menurut saya menarik saat konser ini. Para penonton memang sangat antusias terhadap 2PM, tapi mereka hanya antusias terhadap  2PM untuk menunjukkan pada dunia bahwa mereka menonton 2PM, bahwa mereka ada di acara ini, mereka ingin mengumpulkan bukti tentang eksistensi mereka dalam acara ini. Seketika 2PM muncul di atas panggung, teriakan disertai kilatan cahaya flash dari kamera, entah itu kamera BlackBerry agar bisa langsung mereka tweet atau dari kamera digital agar bisa mereka upload di account Facebook masing-masing. Seketika ribuan ABG labil mengangkat satu tangan mereka, mengarahkan kamera ke 2PM, SIBUK SENDIRI! Mereka berteriak mengelu-elukan 2PM, padahal pikiran mereka melayang, “bagaimana caranya agar foto ini, atau video ini, bisa menjadi bukti otentik kehadiran gw di sini.”

Entahlah mungkin mereka berusia belasan, dan mungkin memang itu fenomena yang biasa terjadi pada anak seumuran mereka. Namun cara mereka menunjukkan eksistensi dirinya sudah di luar batas kewajaran. Teknologi terlalu memanjakan remaja masa kini, teknologi juga yang membuat mereka semakin tergila-gila dengan eksistensi dan pengakuan.

Maaf sebelumnya, namun bagi saya attitude mereka saat menonton 2PM hanya sebuah bentuk pembuktian diri yang cenderung KAMPUNGAN. Mereka tidak tahu kapan menempatkan diri, memposisikan diri, bahkan menghormati orang lain. Rasanya tidak sedikit orang yang mengeluh sama seperti saya.

Saya mulai merasakan akibat negatif dari social media. Social media cenderung membuat orang untuk berlomba-lomba unjuk diri. Sebenarnya itu bagus, tapi jika kemudian ajang unjuk diri itu harus melalui proses yang kurang beretika, itu yang tidak baik. Unjuk diri yang cenderung hanya berembel-embel “ikut-ikutan”, kasarnya “TREND”!

Terlepas dari beberapa fans berat yang memang ingin mengabadikan artis idolanya tampil di panggung, mereka semua hanya ingin menunjukkan eksistensi dan menginginkan pengakuan. Sebenarnya saya pun begitu. Anda dapat membaca dari tweet-tweet saya, tapi itu semua masih dalam batas kewajaran dan tidak merugikan orang lain. Namun jika cara menunjukkan eksistensi dan keinginan pengakuan itu sudah merugikan orang lain, itu sudah tidak baik. Terbukti saat Suede tampil, semuanya berjalan tertib. Penonton sudah mulai dewasa menyikapi. Tidak sedikit yang mengabadikan penampilan Suede, namun tidak juga kemudian merugikan penonton yang lainnya. Apakah itu semua dikarenakan perbedaan umur penonton 2PM dan Suede? Atau karena telah terjadi pergeseran nilai yang tertanam dalam anak remaja generasi masa kini? Saya tidak mau menyalahkan teknologi social media, tapi rasanya para orangtua dan sekolah harus mulai memandang persoalan eksistensi dan pengakuan ini sebagai sesuatu yang perlu ditindaklanjuti. Mari kita lihat bagaimana attitude penonton saat 2PM mengadakan konser tunggal di akhir tahun ini di Indonesia.

 

Jatinangor,

y&c

Sunday, January 23, 2011

Tuhan atau Manusia?


Jika selama ini selalu ada pertanyaan, ‘Telur dulu atau ayam dulu?’, tiba-tiba saja terbersit dalam pikiran saya.. ‘Tuhan dulu atau manusia dulu?’. Pertama-tama tanpa mengurangi rasa hormat, saya tidak bermaksud menghina Tuhan, atau agama tertentu, ini hanya permainan logika dan sikap mengkritisi..

Dari sebuah tweet teman yang dimention ke saya, dia mengatakan bahwa ‘manusia itu ciptaan Tuhan.’ Tiba-tiba saya merasa aneh, dan menyadari sebuah keganjilan di sana. Logika saya berjalan dan cenderung agak frontal, maaf..

Pertama, darimana asala kata Tuhan? Bagaimana manusia mengenal Tuhan? Ya tentu saja penemu kata ‘Tuhan’ itu adalah manusia. Manusia juga yang mendefinisikan apa itu ‘Tuhan’. Di luar semua agama, manusia kemudian mengatakan bahwa dirinya diciptakan oleh ‘Tuhan’, sebuah kata yang secara logika sebenarnya diciptakan oleh manusia itu sendiri. Bahkan belum ada satu manusia pun yang bisa mendeskripsikan dengan pasti seperti apa itu ‘Tuhan’.

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ada dua definisi kata ‘Tuhan’. Pertama: sesuatu yang diyakini, dipuja, dan disembah oleh manusia sebagai yang Mahakuasa, Mahaperkasa, dsb: -- Yang Maha Esa. Kedua: sesuatu yang dianggap sebagai Tuhan: pada orang-orang tertentu uanglah sebagai – nya. Jadi intinya, ‘Tuhan’ adalah ‘sesuatu’. ‘Sesuatu’ bisa diartikan sebagai ‘benda’. Benda.. bukankah benda itu diciptakan manusia?

Jadi jika didasarkan pada judul tulisan ini, mana yang terlebih dulu muncul? Tuhan atau manusia? Toh pada saat jaman manusia belum mengenal tulisan, manusia hanya menyembah alam dan roh leluhur, bukan Tuhan. Tuhan baru “muncul” setelah manusia mulai mengenal tulisan. Bisakah ini diartikan bahwa ‘Tuhan’ adalah buah dari akal pemikiran manusia? Manusia yang haus akan sesuatu yang baru tiba-tiba merasa bahwa segala sesuatunya di alam semesta ini bisa berjalan sedemikian rupa, pasti ada sesuatu atau seseorang yang mengaturnya. Terciptalah ‘Tuhan’.


Tuhan dulu atau manusia dulu?


Jatinangor
y&;c

Friday, December 31, 2010

2011 Wish List

I just came home, after celebrating a new year countdown at Bird Cage with Ajeng, Nana, Boti and Gery. The traffic was crazy. I took a cab, cost me 50grand Rupiahs! Wow! I reached the place 2 minutes before countdown. What a rush... The party was amazing even there were just five of us.. :)

After all, I have soooo many wishes for this year.. I really don't like this new year actually. It makes me come much closer to my thesis deadline, but whatever, everything must go on, and I should make it! Anyway, I put my self up to make this wishlist, here they are:

GRADUATE!
January 2011 please God..

TRAVELING MOREEE
Tour the Asia, my first start

HAVE A LOVER
This point is not that important, but.. I want it.. :p

STAY CLOSE WITH MY BESTIES

HAPPILY EVER AFTER WITH MY FAMILY
I don't want something terrible happen to any of us

GET A NEW iPhone and notebook
You guys who know me, know about the condition of these things right

LEARN MORE ABOUT MY RELIGION
I feel like I never put my self together to meet you God, am really sorry

MAKE NEW FRIENDS
I love this! Spread my wings everywhere

GET READY FOR LONDON!
My biggest dream everrr


2010 Memories

Inspired from my friend's blog 2010 memories, I wanna try to remember what just happen in the whole 2010. Really hard to recall all that memories, here are some of them:

#Januari
Had a great new year celebration in Jojga with my besties of 24 hours family.. We stayed at Kania's house in Kaliurang. Much fun!

#Februari
I did my first Tahajud. Awesome! But unfortunately, my thesis proposal got rejected..

#March
Watched Cobra Starship concert. Great!!! I love Gabriel Saporta

#April
Memory lost!

#May
Had a photoshoot. Not very important..

#June
My world fell. My grandma died so sudden. It was a great loss. From now on, I have no grandparents :(

#July
I went to Bali with my besties of Ahoy. We stayed at Dino's house in Seminyak. Less money but I had a really great birthday blast! I still owe Dino for this trip. Hehe. This trip was also Dino's goodbye conference. He's about to leave for England

#August

  • Makar Jurnalistik 2005 second edition.. Batu Karas! 
  • Happy independence day Indonesia! 
  • World Cup..

#September
A month of farewell. Friends come and go.. Dino went abroad to Bournemouth, England. Byeee Dino!

#October

  • Yeayyy finally I made my own topic for my thesis. After a longgg journey and lots of effort. Thx a bunch, dear God! I became Usmas Bachelor! Hahaha
  • But this month, Indonesia suffered caused by several natural disasters. #prayforIndonesia was spreading everywhere..
  • I went to Pasar Seni ITB with #jurnal05. Very hectic!
  • Playground 2010

#November
Kania graduated!

#December
For the first time in my life, I put my feet inside the Gelora Bung Karno Main Stadium. Watched AFF Cup Final. I love Garuda!

Goodbye 2010. Hope for a great life in 2011..


Jakarta
y&c

Thursday, December 30, 2010

Garuda wins my heart!

December 29, 2010 at 15:30 pm, I began to depart from my home in West Cilandak numbers towards FX Senayan. The roads are jammed and I started to panic. But quite interesting because on this historic day, all the people along my trip to Senayan seem very enthusiastic. Many were wearing red shirts with bringing all the attributes of Indonesia starting from the flag, red and white scarf bearing Indonesia, trumpet, and they all went along with the people closest to supporting this national pride Garuda national team..


Up on the roundabout Senayan, Sudirman traffic toward already incredible dense. All stops except for thousands of rogue motor that goes into the sidewalk to get to the Senayan. If you already in the precarious situation like this, so it's legal when the motor broke through the pavement and hundreds of vendors crowded the edge of Sudirman street. For fear of too late to meet my friends, I finally fell in front of Ratu Plaza and walked toward FX. My tiredness was defeated feeling excited. I was walking excitedly, glad to see the enthusiasm Garuda national team supporters flocked to see the greatness of the players. All groups, whether poor to the rich, all running together. Awesome!

That day's gonna be a historic day. Not only for the Indonesian national team, not only for the people of Indonesia, but especially for me, because this will be my first experience watching Garuda national team competed in the Gelora Bung Karno Main Stadium. For 23 years I live in Jakarta, I have never set foot in that Silaban's building. So far I can only see the splendor of the outside only, never even looked into it..


After met with friends # jurnal05 on FX, we walked to Bung Karno Main Stadium. Along the way to the stadium was very solid. All human beings Indonesia came from various ethnic, religious and economic backgrounds. There was a little horror in the crowd. Fear stolen, fear of chaostic, but all fear gone by the spirit of supporting the Garuda national team. Unfortunately, two of my friends lost their mobile phone, Dimas and Joan, be patient, yes!

Our situation was uncertain because of waiting for tickets. The girl who brought our tickets was already entered into the stadium, so we have to wait her out again to give the tickets. We happened to buy a ticket stands, is not that classy. Not the class that we are looking for, we're just looking for entertainment.


Because we were late to the stadium, things got less clear. Very difficult to get into the stadium, especially when many people tried to force entry to the stadium. When Indonesia Raya was echoed, we could only hear it shudder from outside the stadium. All so sacred .. I was not too hung high expectations, I just want to see them play perfectly.



At 19:00 we were still outside the stadium when the game had begun. When finally some of us managed to get into, me, Dimas, Anka, Diah and Nyong can't come inside. All five of us decided to let go, watching outside the stadium via the big screen. After much thought, we eventually intend to try enter again. Luckily, the guard gate entrance was filled with pity, he finally let us in even though he already warned us that inside is the already very full and hard to get a seat. Regardless, we remain excited inside. YEAY! The first time I set foot here. Hihihi!



But sure enough, inside was very full. Almost impossible to have a sit. Finally five of us just sat outside, watching the game via the big screen. We sat in the stadium literally, but we watched the game from the big screen that is visible from the second floor. Hehehe. Occasionally we also looked into the seat area, but the atmosphere there was too hectic, the smell of sweat, bad breath, mix with the body heat, extraordinary!

The whole stadium turned red! Incredible! All shouting 'INDONESIA! "and all felt very solemn in the middle of a frenzied game. It is rather difficult to imagine that the Garuda national team can avenge the defeat when the first leg in Bukit Jalil, but the most important, they've played with very great! Won many matches in the AFF Cup, this alone is enough for me. There is still a sense of pride for Firman Utina et al.


December 29, 2010, a new historical recorded. Indonesia-Malaysia sportive match. Winner title for the Garuda national team in the hearts of the people of Indonesia. My first experience inside the Gelora Bung Karno Main Stadium. And the game is completed without any violence whatsoever. Standing applause for all the fans who already are tolerant to accept the defeat the Garuda national team. It was just one game, there are still many other games that await. Garuda national team is still a long way to beat its wings in the arena of world football. Although it may yesterday match could have become a means of proving Garuda national team, especially as proving the dignity of Indonesia over Malaysia, apart from that, there's still something to be proud of. That sense of nationalism of Indonesian people has never subsided.

Bravo Garuda! Bravo Indonesia!


Jakarta
y&c

Saturday, December 18, 2010

My Silly Universe Theory

Saat saya masih kecil, saya suka sekali dengan astronomi. Seperti anak kecil lainnya, cita-cita saya banyak banget. Salah satunya saya ingin jadi astronot. Terbang dengan pesawat ulang alik ke luar angkasa, merasakan gravitasi nol, melayang-layang sambil menikmati pemandangan bumi yang indah di antara gelapnya luar angkasa.

Kegemaran saya akan astronomi masih berlanjut sampai sekarang. Di stumbleupon, saya mencantumkan astronomy. Saya suka sekali browsing tentang alam semesta ini. Melihat indahnya foto-foto hasil teleskop Hubble, menciptakan planetarium mini di layar laptop saya ini. Menyenangkan sekaligus menyadarkan saya bahwa maha besar Sang Pencipta.

Hari ini saya membaca Kompas.com. Di rubrik Sains, saya menemukan sebuah artikel menarik: Alam Semesta Kita Bukan Satu-satunya?. Di dalam artikel itu dijelaskan bahwa Roger Penrose dari Universitas Oxford dan Vahe Gurzadyan dari Yerevan State University di Armenia, mengemukakan teori baru alam semesta. Menurut mereka, alam semesta yang kita tahu adalah sebuah gelembung yang ada dalam semesta yang lebih besar. Semesta tersebut juga diisi dengan gelembung-gelembung lain.

Saya syok membacanya. Bukan karena teori yang mengejutkan, namun saya sudah familiar dengan teori itu, saat saya bahkan baru duduk di taman kanak-kanak. Itu adalah teori yang saya buat sendiri mengenai alam semesta kala. Silly..

Dulu saya adalah anak kecil dengan tingkat fantasi yang melebihi rata-rata. Tingkat keingintahuan saya sangat besar, sehingga jika tidak bisa menemukan jawabannya saya suka sekali berkutat dengan pemikiran aneh sendiri.

Saya ingat, dulu yang ingin saya ketahui adalah di manakah keberadaan Tuhan. Saya sudah tidak percaya bahwa Tuhan ada di awan, karena kala itu saya sudah gemar sains, saya tahu bahwa awan hanyalah sebuah peristiwa alam. Akhirnya muncullah teori gelembung itu. Semua benda langit yaitu bintang dan planet bentuknya bulat. Kemudian saya menarik kesimpulan bahwa alam semesta ini bentuknya bulat, yang berada di semesta yang lebih luas lagi. Di dalam semesta yang lebih luas lagi itu, ada banyak bulatan-bulatan sama seperti bulatan alam semesta tempat manusia berada. Nah, di alam semesta yang lebih luas itulah Tuhan berada. Dari sana Dia bisa mengatur semuanya.

Saya terkejut ternyata ‘pemikiran nakal’ saya itu sama dengan teori yang dibuat ilmuwan. Bedanya, tujuan mereka meneliti itu murni karena ilmu pengetahuan, bukan untuk pencarian di mana tempat Tuhan berada. Agak lucu, pemikiran anak umur 5 tahun sama dengan teori ilmuwan. Hahaha

 

Jatinangor

y&c

Friday, December 3, 2010

Why Jakarta?

Yeah, that city is the biggest dream of all Indonesian people I think. They all want to have a proper life in Jakarta, big city life, feel the bustle, big palace home in a wealthy neighborhood and ofcourse, have their own money tree. That's the curse of centralized development a long time ago. Now eat that!

Kenapa semua orang mau hidup dan berkarir di Jakarta? Apakah hanya karena di kota itu banyak gedung-gedung pencakar langit, banyak pekerja kantoran yang mondar-mandir, banyak yang kemudian pulang kampung dengan membawa kantong penuh uang dan sejuta cerita kesuksesan setelah bekerja di sana? Tapi apakah mereka yang bermimpi untuk tinggal dan berkarir di Jakarta itu mengenal pepatah yang mengatakan bahwa 'rejeki setiap orang berbeda'?

Selama 23 tahun saya tinggal di Jakarta. Lima tahun terakhir tidak sepenuhnya, karena saya kuliah di Universitas Padjadjaran di Jatinangor dan sungguh itu membuka mata saya dan inilah sebabnya saya bisa berbagi sedikit tentang fenomena yang terjadi. Saya lahir dan besar di Jakarta dan sempat menganggap bahwa, ok, Jakarta adalah kota terbaik di Indonesia untuk saya tinggal. Then, I got it wrong.

 Ya, Jakarta memang megah. Jutaan kesempatan kerja terbuka lebar, infrastuktur perkotaan, walaupun tidak terlalu sempurna, hampir tidak kalah dengan kota-kota besar di dunia. Semua hiburan khas masyarakat urban ada di kota terbesar di Indonesia itu. Yang tidak ada hanyalah keadilan. Begitu menurut mereka, gelandangan, warga penghuni bantaran kali, pengamen dengan nyanyian-nyanyian makiannya kepada pemerintah dan menganggap pemerintahlah yang bertanggungjawab atas hidup mereka, dan semua orang Indonesia yang merasa bahwa dunia ini tidak adil. Sekarang saya tanya, untuk apa mereka ke Jakarta? Mencari pekerjaan yang katanya banyak terbuka lebar itu? Sekarang, apa kemampuan mereka? Lulusan universitas mana? Apa gelar mereka? Nothing. Mereka hanya mendengar kabar tetangganya di kampung yang sukses bekerja di Jakarta, bisa membelikan rumah untuk keluarganya di kampung, tapi tidak melihat kenyataan yang ada. Mungkin tetangganya seorang interpreneur yang bisa membaca semua peluang usaha sehingga sekarang sukses, sementara dirinya hanyalah seorang anak petani yang mungkin memiliki taraf pendidikan yang sama dengan tetangganya itu namun tidak punya kejelian seperti tetangganya tersebut.

Bukan hanya untuk mereka 'pihak yang dirugikan' (padahal karena dirinya sendirilah, mereka merugi), namun juga pihak 'terpelajar' yang berbuat hal bodoh semacam itu. Tidak sepenuhnya bodoh karena mereka memiliki gelar dan keterampilan, namun pemikiran mereka yang kurang kreatif.

Jakarta terlanjur dibangun sebagai kota pusat segalanya. Pemerintahan, kegiatan perekonomian, bahkan pusat segala masalah sosial dan lingkungan. Kemiskinan, kebodohan, kriminalitas. Banjir, macet, polusi, kurang air bersih dan semuanya. Apa yang tidak ada di kota ini? Oh ada...kemerataan. Kota ini tidak kemudian menyebarkan benihnya ke kota lain di Indonesia. Mungkin dengan adanya otonomi daerah, keadaan ini bisa di-reduce. Kata siapa.. Masih banyak orang yang setelah lulus bekerja, berorientasi utnuk mencari sesuap nasi di Jakarta. Kenapa harus di Jakarta?

Masih banyak kota di Indonesia. Dan kenapa juga harus di kota? Di desa pun kita bisa meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Rokok. Industri rokok banyak bermunculan di kota-kota kecil di Indonesia, namun mereka bisa sukses. Banyak pemiliknya, ya walaupun pada akhirnya membangun gedung megah di Jakarta, namun setidaknya semudanya berasal dari daerah luar Jakarta. Namun ini tidak banyak terjadi, setidaknya yang saya tahu.

Kita harus merubah pola pikir ini. Ini tidak benar. Mengapa kita harus hidup di Jakarta? Membiarkan Jakarta tumbuh melesat dibandingkan kota-kota lainnya, membuat desa sepi, tidak ada yang mengurus pertanian, peternakan, sehingga harga makanan mahal, dan kemudian berlanjut ke masalah sosial lainnya. Seperti biasa, semua hanya bermodal nekat, tanpa melihat semuanya dari berbagai sisi, jangka pendek dan jangka panjang. Sekarang lihat, banyak sekali kaum miskin yang sebagian besar tinggal justru di kota besar. Siapa tahu jika mereka bisa setidaknya berusaha bersabar, mereka bisa mendapatkan sebuah kehidupan yang layak di desa. Lagipula biaya hidup di luar Jakarta tidak akan terlalu menyedot uang penghasilan.

Kota Jakarta sudah terlalu sesak. Dengan banyaknya kendaraan pribadi, kurangnya sarana transportasi massal yang memadai, kurangnya kualitas lingkungan di Jakarta, apa sebenarnya yang dicari di Jakarta? Gelar sebagai 'orang Jakarta'? Apa yang membanggakan..

Setiap saya pulang ke Jakarta, kembali ke rumah, saya tidak pernah enjoy jika sudah bersentuhan dengan jalan raya pada jam-jam sibuk di Jakarta. Saya bisa menghabiskan waktu 2 jam bahkan lebih jika kondisi lalu lintas tidak bersahabat. Tapi sayangnya itu semua sudah dimaklumi warga Jakarta sendiri dengan mengatakan "namanya juga Jakarta"..termasuk saya juga mengatakan itu.

Tidak salah memang untuk tinggal di kota itu. Semua orang berhak karena Jakarta adalah ibukota negara kita sendiri. Namun semua orang juga harus mawas diri. Apakah dirinya memenuhi 'syarat' sebagai warga Jakarta? Syarat untuk bisa bersaing dengan jutaan usia produktif, memiliki kemampuan untuk meraup uang sebanyak-banyaknya, tapi tidak dengan cara yang diharamkan hukum.
 

Ada yang mengatakan, 'Jakarta keras, bung'. Dan saya sejalan dengan itu. It is. Jakarta memang keras. Bukan sebuah kota yang merangkul erat penghuninya, bukan kota yang banyak memberikan ketenangan. Hanyalah kota yang membuat warganya sendiri stress dengan segala kompleksitas permasalahannya.

Ketika pemerintah meresmikan otonomi daerah, tentu banyak daerah senang. Daerah kemudian mendapatkan kesempatan untuk menikmati potongan kue, walaupun saat ini saya tidak tahu bagaimana kelanjutannya saat ini. Mungkin dapat bagian, namun masih banyak tercecer di Jakarta. Potongan terbesarnya tetap dinikmati di Jakarta.

Kalau mau tahu lebih tentang Indonesia, saya sarankan jauh Jakarta. Jakarta sudah terlalu modern. Bagus, tapi menjadi tidak bagus jika ternyata banyak warganya yang bahkan tidak layak untuk hidup di kotanya sendiri. Jakarta mungkin memang bagus, tapi tidak cukup bagus untuk saya. Jadi, kenapa Jakarta? Saya tidak terpikir untuk tinggal di kota itu.. We'll see


Jatinangor,
y&c

Thursday, December 2, 2010

Sinetron Indonesia vs Drama Korea


Beberapa waktu lalu saya menonton sebuah tayangan infotainment sebuah stasiun televisi swasta nasional. Tayangan itu membahas mengenai kekhawatiran tersingkirnya popularitas sinetron Indonesia dengan merebaknya drama Korea. Saya hanya bisa tertawa sinis mendengarnya. Hah bahkan keduanya, sinetron Indonesia dan drama Korea tidak bisa disandingkan satu dengan lainnya. Tidak ada yang saya remehkan di sini, tapi memang 'kelas' mereka berdua jauh berbeda. Jauh! Jadi seharusnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan.. As always, infotainment selalu berlebihan -> this is called labelling. Hahaha

Pada beberapa scene, ditampilkan wawancara dengan artis-artis sinetron Indonesia yang.. hmm, jujur saja saya tidak terlalu suka dengan mereka. Saya pernah intern sebagai junior feature editor di sebuah majalah lifestyle di Jakarta dan producer assistant di sebuah televisi swasta lokal Jakarta, dan saat itu saya banyak berhubungan dengan artis-artis. Ya salah satunya artis-artis sinetron Indonesia yang kebanyakan memiliki taraf kesombongan seperti artis kelas dunia. Ok, saya tidak akan mulai sarkastik di sini..

Para artis yang terkenal itu mengatakan bahwa kualitas sinetron Indonesia memang masih jauh di bawah kualitas drama Korea, bahwa drama Korea memang sudah go international sedangkan sinetron Indonesia hanya hidup di negeri sendiri, paling jauh hanya ke negeri Jiran, dan terakhir bahwa intinya sebanyak apapun serbuan drama Korea di Indonesia, sinetron masih memiliki ruang di hati penonton Indonesia.

***

Sekarang saya mau tanya. Sinetron mana yang sekarang tidak tayang setiap hari? Sinetron mana yang sekarang tidak memakai sistem stripping? Ada gak sinetron yang tidak kejar tayang? Jawabannya, tentu tidak ada. 

Dulu sekali, sekitar tahun 90-an, sinetron-sinetron di Indonesia hanya tayang seminggu sekali. Dulu sekali, kualitas gambar, kualitas cerita dan kualitas pemain sinetron Indonesia bisa saya acungi jempol. Bagus.. Sangat bagus. Saya suka jalan ceritanya, saya suka angle pengambilan gambarnya, dan pemain yang bermain di dalamnya pun tidak perlu diragukan lagi walaupun wajahnya memang hanya itu-itu saja, tapi setidaknya saya selalu antusias untuk menunggu episode minggu depan.

Sekarang? Sinetron sekarang tayang setiap hari, dengan kualitas cerita yang makin tidak masuk akal dan terlalu dbuat-buat, kualitas angle pengambilan gambar yang mengecewakan karena hanya mengutamakan close-up shot dan sesekali medium shot. Kualitas pemain? Standar. Asal bisa menangis terus menerus, bisa marah-marah terus, bisa bersikap bodoh dan terlalu sabar, dia bisa langsung naik pamor menjadi artis sinetron Indonesia dengan sejuta kesombongannya. Apa sesungguhnya yang disombongkan dengan kualitas akting seperti itu.. Dan yang terpenting, dengan tayang setiap hari, itu sungguh menyita waktu dan menurunkan manajemen waktu seseorang.

Kenapa sinetron Indonesia sekarang harus seperti ini ya? Apa hanya demi mengejar pasar? Bagaimana saya tidak mau men-judge orang Indonesia terlalu money oriented kalau semua alasan terus-menerus hanya 'demi kepentingan pasar'? Pasar = uang kan? Sekarang lihatlah.. Karena terlalu mementingkan modal yang masuk, kualitas dikesampingkan. Si sebuah sinetron, beberapa keluarga dalam sinetron tersebut bisa-bisanya tinggal satu rumah. Memang banyak yang seperti itu di Indonesia, namun saya curiga itu semua taktik untuk menghemat biaya produksi. Salah siapa? Tidak ada yang salah. Semua mau mendapatkan keuntungannya masing-masing. Bisa jadi, makin sedikitnya berita yang menggembirakan di media, semakin sulitnya bertahan hidup di negeri ini, orang Indonesia haus akan hiburan dan dengan sigapnya industri sinetron Indonesia dapat menangkap sinyal itu. Dan voila, kualitas standar kejar tayang sinetron Indonesia yang ternyata sangat sukses di pasaran. Lihat saja jumlah iklan yang tayang di sebuah sinetron.

Bagaimana dengan drama Korea? Saya akui bahwa kualitas mereka sangat bagus. Walaupun jalan ceritanya sebagian besar hanya seputar cinta dan komedi, namun itu sangat menghibur. Jauh dari kesan terlalu tidak masuk akal sebuah sinetron di Indonesia. Contoh, sangat kecil kemungkinan ada dua orang berbeda yang memiliki wajah yang sama kan? Tapi itu masuk akal saja di sinetron Indonesia. Sering orang bilang, 'yahhh namanya juga sinetron, maklum aja'. Saya akan maklum kalau itu bukan sinetron. Masalahnya adalah para pembuat sinetron itu tidak mau tahu apa dampaknya tayangan sinetron bagi penonton. Saya pernah juga waktu itu tidak sengaja menonton infotainment dalam waktu yang berbeda, seorang artis pemeran tokoh antagonis di sebuah sinetron yang ratingnya tinggi, dipukuli sekelompok ibu-ibu karena mereka kesal dengan perawakan si artis di sinetron tersebut. Lihat? Itu hanya satu contoh bagaimana daya tangkap penonton sinetron di Indonesia.

Hanya ada tiga tokoh utama di sinetron Indonesia. Antagonis, melankolis dan tokoh netral yang cenderung plin-plan. Sisanya hanya pemandu sorak untuk meramaikan sinetron. Jahat? Itu kenyataannya.

Tidak ada salahnya kan jika saya berharap suatu saat sinetron Indonesia bisa seperti drama Korea. Siapa tahu nantinya Christian Sugiyono bisa diidolakan di Korea seperti artis drama Korea Lee Min Ho yang begitu digilai di sini. Namun jika kualitas sinetron masih seperti sekarang, saya sungguh tidak tertarik menontonnya. Untuk sesekali menonton tidak apa-apa, namun tidak untuk ditonton setiap harinya. Saya tahu batas untuk mengkonsumsi hiburan. Semua orang memang butuh hiburan, tapi setidaknya para pemilik modal itu paham bahwa sudah saatnya hiburan itu disisipi ilmu yan berguna. Tidak hanya sebatas kejar tayang, artis-artis muda baru yang bening-bening, tapi tanpa memikirkan efeknya bagi para penonton. 

Sinetron Indonesia mungkin tidak akan ditinggalkan karena serbuan drama Korea belakangan ini, mungkin sinetron masih punya ruang di hati penonton, tapi jangan terlalu berbesar kepala karena itu.  
We know we can do much better from that. We all know..



Jatinangor,
y&c

Tuesday, November 30, 2010

Tentang Orang Tua

"Bersihkan penyimpangan seksual!!!" "Bersihkan penyimpangan seksual!!!"


Seruan-seruan ini memekakkan telinga. Keluar dari mulut para perempuan berjilbab yang sedang menggelar aksi peringatan Hari AIDS Sedunia yang jatuh hari ini. Dengan membawa spanduk bertuliskan huruf Arab yang entah apa bacanya, saya sendiri tidak tahu. Jalanan Bunderan HI yang tidak ada mereka saja sudah macet, hari ini semakin macet. Apa yang mereka pikirkan..

"Hey Henny, kamu kok baru dateng?" Bos kepala bagian berteriak dari kejauhan sambil berjalan mendekati saya.

"Iya maaf Pak, tadi ada sedikit hambatan di Bunderan HI. Padahal aku berangkat seperti jam biasanya dari rumah.."

"Oh iyaaa. Aku tadi lihat tweet dari kamu kok. Hehe. Bersihkan penyimpangan seksual!" Seru Pak Harry, bos saya yang berusia setengah baya sambil mengepalkan tangan ke atas seakan-akan dia tengah berdemo.

Ada gosip di kantor bahwa Pak Harry jatuh hati pada saya. Tapi bukan itu yang membuat saya tidak betah berada di kantor ini. Jiwa saya bukan di sini, jiwa saya di luar sana.. Saya tidak bisa bekerja nine to five di belakang meja, mendengarkan konflik politik kantor, intrik-intrik licik dan semua protokoler kantor ini.

Saya sering merinding jika berada di ruangan ini sendirian. Maklumlah, saya bekerja di Istana.Sebuah bangunan kuno peninggalan jaman Belanda yang menyimpan segudang misteri..
Teman-teman dan saudara-saudara saya mengira bahwa bekerja di Istana itu menyenangkan. Berada di Ring Satu pemerintahan tertinggi republik ini. Hahhh apa yang menyenangkan. Untuk pergi ke toilet saja, saya harus menunggu 15 menit saat si bos besar sedang lewat..iya bos besar, Pak Presiden..

Latar belakang pendidikan saya adalah geologi, tetapi kenapa saya harus bekerja di sini ya? Seharusnya saya brada di kilang minyak, atau daerah pertambangan, atau paling tidak bekerja di kantor urusan geologi itu.. Orangtua saya, mereka tidak mau bahwa anak perempuan mereka satu-satunya bekerja di lapangan, menjadi hitam, kusam, tidak terawat. Dunia geologi terlalu banyak bahayanya bagi mereka. Ya Tuhan, apa mereka pikir saya akan terjun menyelam di dalam minyak bumi, atau menyelupkan tangan ke dalam magma gunung berapi ya?

Sebenarnya serba salah menjadi anak perempuan satu-satunya. Saat saya memutuskan memilih jurusan geologi saja, tentangan datang bertubi-tubi dari orang tua. Kakak-kakak laki-laki saya ikut-ikutan menolaknya. Hahhh banci! Saya kira dulu enak menjadi anak bungsu, tetapi ternyata anggapan itu salah total. Segala keputusan saya terkekang oleh keputusan orang tua yang sebenarnya bertindak seperti Tuhan di rumah. Jika saya sekali saja tidak menuruti, mereka akan kemudian mengungkit segala kerja keras mereka menghidupi saya selama ini, kenapa saya sebagai anak tidak bisa membalasnya dengan menuruti permintaan mereka. Dilema yang sebenarnya tidak bisa dipilih. Ini berhubungan dengan masa depan saya, kenapa mereka seperti itu..

Mana orangtua mau tahu soal hak asasi manusia? HAM itu haram bagi orang tua. Maaf jika saya salah tentang ini, namun inilah yang mondar-mandir di pikiran saya selama ini. Soal kebebasan beragama saja.. Mana ada orang tua yang rela anaknya berbeda agama dari mereka? Atau bahkan menjadi atheis?

Saya rasa bukan soal penyimpangan seksual yang perlu dibersihkan. Perempuan-perempuan berjilbab itu perlu membersihkan stigma yang ada di otak mereka soal itu. Sama halnya dengan orang tua saya yang perlu membersihkan stigma di pikiran mereka bahwa anak perempuan yang bekerja di lapangan adalah 'bukan perempuan'. Bahwa anak bukanlah sebuah investasi untuk citra orang tua..

Thursday, October 28, 2010

About Julian

I remember the last time we met
I saw you from this very place
Staring your hand, holding that diamond ring
Bend your knees..

Oh I wish she were me
Having your last name, but that’s it
It was all my fault
I never put my trust on you

I tried, but I can’t
I denied, and I regret
I heard them, and I hate it
I never use my own heart to touch you


 What if I could change this
What if God had the second plan
What if.. I could reverse things

Oh I wish she were me
Put my head on your shoulder
Lying on your chest
Share tears, laugh and lust together

Julian, I miss you
I miss your jokes, your anger, your honesty
How I could be like this
Just use my ego, for my own pleasure

I feel sorry, to my self
God what should I do
I knew he's gone right after I realized
That this is L O V E



Jatinangor, y&c

Wednesday, October 27, 2010

Pray For Indonesia

Tuesday, October 12, 2010

STOP KAMPANYE-STOP-MEROKOK

Di tengah ngantuk-ngantuk lucu, diiringi tetesan air hujan di pagi hari ini, tiba-tiba muncul aja pikiran aneh-aneh di otak ini. Daripada mubazir, mending dishare kan…

Anda perokok? I don’t care. Saya perokok. So what?

Belakangan ini, saya mulai eneg dengan KAMPANYE STOP MEROKOK.

Entahlah, mungkin karena saya perokok, jadi saya menjadikan pemikiran saya ini sebagai dasar pembelaan..

Kenapa sih harus digembar-gemborkan, setiap berapa menit beberapa orang meninggal karena rokok. Hahhh, mereka kira rokok bawa celurit, lalu menebas satu persatu kepala para ‘korban’ yang meninggal akibat rokok itu?

Pemikiran tolol? Terserah Anda mau bilang apa. In fact, itulah yang terjadi. Bukan rokok yang membunuh. Kampanye yang salah kaprah. Bisa jadi racun yang terkandung pada rokok memicu suatu penyakit, tapi banyak juga faktor di luar sana yang bisa menyebabkan kematian. Kenapa hanya KAMPANYE STOP MEROKOK saja yang digenjot habis-habisan? Kalau seseorang mau hidupnya seperti apapun, mau sehat atau sakit, bukankah itu hak tiap individu? Jangan-jangan tidak masuk HAM ya???

Pikiran liar saya melayang pada sebuah persaingan dagang yang tidak sehat antara perdagangan rokok negara berkembang dan negara maju. Ini juga didasari dari notes salah seorang teman di facebook beberapa waktu lalu. Tahu gak siapa yang berperan di balik kampanye gak masuk akal itu? WHO. Sebuah Organisasi Kesehatan Dunia PBB yang bermarkas di.. ya tepat sekali New York, Amerika Serikat!

Monday, August 30, 2010

Ketika Tuhan Menciptakan Indonesia

Saya pernah membaca sebuah kisah di sebuah postingan blog. Bodohnya saya lupa tidak mem-bookmark alamatnya. Di sana diceritakan tentang suatu masa ketika Tuhan menciptakan bumi, hingga akhirnya tentang penciptaan Indonesia. Sebuah cerita yang fresh, namun penuh makna. Ini tidak bermaksud untuk melecehkan agama apapun, karena ini hanyalah sebuah cerita fiksi.

'From_Earth_2'_Remix

Begini kurang lebih ceritanya:

Tuhan tersenyum puas setelah selesai menciptakan bumi dan isinya. MenurutNya, bumi adalah planet terbaik yang pernah Dia ciptakan. Di sana, semuanya berjalan seimbang

Dia kemudian memperlihatkan hasil karyanya ini kepada para malaikat.

“Di bumi ini, Saya menciptakan semuanya seimbang.”

Lalu Dia menunjuk ke arah Eropa Utara.

“Di sana adalah tempat untuk usaha, penuh peluang. Orang-orangnya memiliki intelektual tinggi dan kaya, tapi Saya berikan suhu udara yang sangat dingin.”

Para malaikat mengangguk. Kemudian Tuhan mengarahkan telunjukNya ke Eropa Selatan.

Tuesday, July 27, 2010

Empire State of Mind of Me

Lantunan lagu Empire State of Mind sengaja saya lantunkan di laptop ini. Lagu ini dimainkan di sebuah club bernama Hu'U di daerah Seminyak, Bali, kala saya berkunjung ke sana minggu lalu. Entah mengapa lagu ini terus menggaung di otak.

Saya hanya memainkan satu lagu ini. Terus berulang. Entah.. Seakan lagu ini membawa saya menuju tempat tertinggi. Menuju pemikiran tertinggi seorang saya. Apa tujuan hidup ini..

Sekelebat saya berpikir.
Mengapa manusia lahir, hidup, menua lalu mati? Mengapa harus seperti itu siklus hidup kita? Apa gunanya semua kenangan, ingatan, semua keringat yang kita curahkan untuk tetap hidup, semua rasa senang, sedih, tawa, teman, sanak keluarga, semua barang yang kita beli. Apa gunanya semua itu jika pada akhirnya kita akan membusuk di dalam tanah, dimakan cacing, lalu hilang lenyap dari bumi ini?


Saya seorang muslim. Bukan muslim yang taat atau mengerti ilmu agama. Hanya sebatas menjalankan kepercayaan saya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Saya pun tidak tahu menahu mengenai sejarah Nabi dan semua tetek bengeknya. Bukan tidak peduli, bukan tidak ingin tahu, namun saya rasa sudah agak terlambat. Naif kalau Anda bilang tidak ada yang terlambat. Saya terlalu malu untuk memulai semua dari awal di umur saya yang sudah meginjak 23 tahun. Hampir seperempat abad ya Tuhan!

Tuesday, July 6, 2010

1508 #001

Lagi-lagi mimpi buruk. Keringat bercucuran dan jantung berdetak dengan sangat cepat. Saya miringkan badan untuk meraih jam digital di samping tempat tidur. Pukul 3 dini hari dan saya baru tertidur 2 jam. Bayangan masa lalu itu kembali menghantui ketenangan jiwa saya.

“Kamu gak apa-apa sayang?”

Saya kaget mendengar suara itu. Suara yang tidak pernah saya dengar sebelumnya. Sangat asing.. Ohhh, saya ingat sekarang. Dia adalah Daniel Siregar, perancang adi busana yang sedang naik daun di negri ini. Tadi malam saya menjadi model catwalk baju rancangannya di sebuah peragaan busana paling akbar di kota ini. Saya memang berprofesi sebagai model. Model murahan yang bisa ‘dinikmati’ 24 jam dengan bayaran selembar cek senilai 30 juta. Dan itu minimal. Saya pernah mendapatkan 3 kali lipat dari itu. Entah si Daniel jelek ini akan membayar saya berapa. Pria ngondek berperawakan sangat Batak. Aneh rasanya dengan muka garang seperti itu bisa sangat ‘melambai’. Senyum tipis.

“Kok kamu tersenyum? Tadi malem enak banget. Kamu memuaskan.”

..diam.. “Aku pengen kamu pergi dari sini sekarang.”

“Kenapa?”

“Aku bilang, PERGI! Jangan lupa tinggalkan ceknya di meja ruang TV.”

Perancang ngondek itu sepertinya ketakutan dan langsung terbirit-birit mengenakan bajunya lalu kabur. Entah dia tinggalkan ceknya atau tidak. Jika tidak, siap-siap saja besok dia sudah tinggal nama.

Saya tinggal di apartemen ini seorang diri. Dari hasil keringat saya. Literally. Keringat yang saya keluarkan di tempat tidur ini. Saya sudah selayaknya gigolo. Terserah saya mau dipanggil apa. Profesi model tidak akan mampu memenuhi gaya hidup konsumerisme saya. LV, Hermes, Gucci dan semua merek ternama dunia menghiasi kloset saya. Saya gila belanja dan senang kemewahan. Saya harus hidup dalam gemerincing koin emas dan bermandikan berlian. Saya tidak bodoh, saya sarjana kedokteran sebuah universitas berplat merah terbaik di kota ini.

Nama saya? Mereka biasa memanggil saya, boy toy.

 

Julian Sastradinata

Sunday, July 4, 2010

IDR Sixty million

DSC03006 Dedicated for my lovely parents..

Rp 60.000.000,- atau enam puluh juta rupiah. Jumlah uang yang sudah dikeluarkan orangtua saya untuk menguliahkan saya selama hampir 5 tahun ini.

Jumlah 60 juta itu bukan jumlah yang pas. Saya hanya mengira-ngira pengeluaran untuk biaya kos, uang bulanan (yang sebenarnya jumlahnya juga tidak pasti) dan biaya kuliah (yang sudah sangat murah jika dibandingkan biaya kuliah di universitas lain). Mungkin ada diantara Anda yang mencibir, “yah elah cuma 60 juta”. Hahhh shame on you. Bukan masalah jumlah uang sebenarnya poin saya membuat tulisan ini.

Saya percaya, bahwa kita semua berasal dari background keluarga yang berbeda-beda. Background dalam hal keuangan. Ada yang berasal dari keluarga mapan, uang bukan masalah, ada yang berasal dari keluarga dengan kemampuan ekonomi menengah, bahkan tidak sedikit mungkin yang berasal dari kelas ekonomi yang bisa dikategrikan sebagai keluarga miskin. Bukan ini juga poin saya menulis tulisan ini. Saya bukan mau membicarakan nilai kekayaan keluarga kita masing-masing.

Saya berasal dari keluarga yang bisa dikatakan stabil. Mengapa saya katakan stabil? Karena sama seperti keluarga yang lain, keluarga saya juga memiliki beragam masalah, namun alhamdulilah, semua masalah satu persatu bisa dipecahkan bersama. Saya tidak berasal dari keluarga dengan kemampuan ekonomi berlebih, namun alhamdulilah, Tuhan selalu melimpahkan rejeki pada keluarga saya.

Beberapa tahun yang lalu, ayah saya pensiun dari Bank Indonesia. Dulu dia bekerja di HRD. Lepas dari BI bukan berarti ekonomi keluarga saya runtuh. Memang terjadi penghematan, namun syukurlah ayah saya masih bisa meneruskan ilmunya menjadi seorang Notaris dan PPAT di Kota Cilegon, Banten. Di usianya yang tahun ini akan menginjak usia 59 tahun, saya kerap merasa khawatir jika dia harus bolak-balik Jakarta-Cilegon hanya untuk bertemu keluarganya.

Sore tadi, saya iseng menghitung kasar biaya yang sudah ayah saya keluarkan untuk membiayai hidup saya selama 5 tahun belakangan ini. Keluarlah angka 60 juta itu. Jumlah yang besar menurut saya. Sempat terlintas, bagaimana caranya saya harus membayar kembali semua biaya ini. Itu baru 5 tahun belakangan, bagaimana dengan biaya 17 tahun yang lain sejak saya lahir?!

Minggu lalu, saya dan keluarga melakukan perjalanan ke Semarang. Kami berempat berangkat menggunakan kereta Argo Muria. Kakak pertama saya tidak bisa ikut karena ada urusan pekerjaan. Mungkin Anda tahu, jika di kereta, kursi bisa diputar ke belakang. Kami berempat duduk berhadapan, ayah ibu saya duduk di satu sisi, saya dan kakak kedua saya duduk di sisi seberangnya. Ketika ayah ibu saya tertidur, terlintas dalam benak saya, “Ya ampun, ternyata orangtua saya sudah tua”.

15 hari lagi, saya berulangtahun yang ke-23 tahun, dengan masih berstatus mahasiswa. Belum bergelar sarjana, belum bisa meraih satu rupiah dari jerih payah sendiri. Memalukan? Ya. Terserah Anda mau berkomentar apa.

Saya percaya betul bahwa tidak ada satu manusia yang bisa menentukan kapan dia harus kembali ke pangkuan Ilahi. Seiring bertambahnya usia kedua orangtua saya, semakin diri saya tertekan. Takut jika sewaktu-waktu mereka dipanggil Sang Khalik, namun saya belum juga bisa menebus 60 juta itu.

Tidak mungkin rasanya jika saya harus mengembalikan puluhan juta rupiah literally kepada kedua orangtua saya. Saya paham, bukan seperti itu caranya menunjukkan bakti saya, mengembalikan semua yang telah mereka berikan kepada saya. Tidak dengan uang.

Rasa cinta merekalah yang harus saya balas. Tidak mungkin kedua orangtua saya mau dan rela menggelontorkan uang sedemikian banyak jika tidak karena rasa cinta mereka kepada saya. Saya bahkan tidak pernah menyampaikan secara langsung bahwa saya menyayangi mereka. Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, saya kurang mampu untuk mengatakan secara langsung isi perasaan saya. Namun saya percaya, dengan segenap gesture saya, dengan semua tingkah laku saya, kedua orangtua saya paham bahwa saya juga menyayangi mereka.

Saya sendiri masih buram mengenai cara saya untuk membalas cinta kasih mereka. Tidak banyak yang bisa lakukan dalam waktu dekat ini. Belakangan, saya menjadi kian sungkan untuk meminta sesuatu kepada mereka. Dengan usia mereka, dengan usia saya, seharusnya saat ini saya tidak hanya berpangku tangan. Saya rela disalahkan karena belum juga menyelesaikan kuliah. Satu hal yang sangat saya inginkan adalah melihat mereka tersenyum bahagia di hari tuanya. Entah bagaimana caranya, namun niat baik ini tulus keluar dari hati saya, dan saya percaya bahwa Tuhan pasti akan memberikan jalan terbaik untuk mewujudkannya.

Kehilangan kakek nenek saya untuk selamanya sudah cukup membuat saya terpukul karena belum bisa membahagiakan mereka. Dulu, saya pernah diceritakan almarhumah nenek saya. Ketika itu, kami berdua sedang dalam perjalanan dan melewati sebuah padang golf. Saya kemudian berceloteh kepada nenek saya, “Uti, nanti kalo aku udah besar, Uti temenin aku main golf ya”. Nenek saya kemudian menjawab, “yah kalo kamu udah main di sana, Uti ntar temenin dari tanah aja ya”. Sedih jika saya mengingat itu. Saya tidak ingin kesedihan itu kembali terulang kepada kedua orangtua saya. Saya ingin mereka masih bersama saya ketika saya sukses, dan saya bisa membayar kembali 60juta itu di hati mereka. Amin.

 

Jakarta, y&c

Friday, July 2, 2010

Know Yourself Better

What makes human as human?

Tonight, I read gebimeidina’s blog. She posts about her training experience for her next job (unfortunately, the company wasn’t accept her, screw them for it).

no-personality2

In that post, I click a link. Online personality test. You just need to sign-up, verify the username from email notification sent to you, then you can start the test. I took the test, then voila! Here’s the result:

Yogi is an optimistic individual. He is the type of person who loves exploring new places or things and a wide variety of experiences. He tends to display a natural charisma that draws others to his charm. Yogi is a very encouraging person; others are drawn to him because they find him inspirational.

A loyal friend, Yogi is patient and caring when attending to the needs of others. He is usually an even-paced individual who thrives in a peaceful, harmonious environment. He tends to be quite predictable, sticking with proven, reliable methods of dealing with situations rather than taking chances with a new, unproven approach.

Neat and orderly, others usually see Yogi as practical. He needs adequate information to make decisions, and he will consider the pros and cons. He may be sensitive to criticism, and will tend to internalize his emotions. Yogi likes to clarify expectations before undertaking new projects, and he will follow a logical process to gain successful results.

Because he cares about how others feel, Yogi may feel uncomfortable making decisions that strongly affect others. He typically encourages others to be involved in the decision making process and prefers to work in a team role. Others tend to see Yogi as agreeable and humble.

Sooo, what makes human as human? We need to know our own personality. Take that test, then try to know yourself better.

 

Jatinangor, y&c