Pages

Tuesday, April 27, 2010

Kisah Sebatang Rokok

Kalian bisa membaca kan? Judulnya sudah jelas mau menceritakan mengenai saya. Ya, saya adalah sebatang rokok. Manusia tamak memberi saya label huruf A di tubuh saya yang ringkih. Entah apa maksud huruf A itu, mungkin kalian lebih tahu.

Technically, saya bukan ciptaan the Big Boss. Yaaaa walaupun bahan dasar saya sebenarnya dari Dia juga. Saya adalah campuran daun tembakau, cengkeh, dan entah bumbu apa lagi yang ada di tubuh saya hingga saya dicap haram oleh sebuah persekutuan muslim. Bagaimana mungkin saya, yang bahan dasarnya berasal dari alam, bisa dikatakan haram?!

Entah dari mana daun tembakau, cengkeh dan semua bumbu yang ada di tubuh saya berasal. Saya hanya ingat saat tubuh ini mulai terbentuk, dilinting, dan diberi sedikit sentuhan ludah kehidupan oleh para manusia yang rasanya cukup jelek jika dibandingkan mereka yang ‘membunuh’ saya nantinya. Manusia tamak lainnya, tampaknya mereka berlagak seperti the Big Boss, menamakan para pelinting itu sebagai buruh. Sekali lagi, saya tidak tahu apa itu buruh. Saya memang bodoh, maklumlah, saya dan kaum saya tidak sempat bersekolah. Begitu tubuh kami sempurna, kami langsung dikumpulkan dalam sebuah ruang sempit, terombang-ambing, mengalami gempa bumi besar, lalu percikan api membunuh kami perlahan.

Teman sepenanggungan saya, namanya rokok. Hmmm tunggu, jika semua kaum saya bernama rokok, bagaimana saya bisa membedakannya untuk kalian mengerti ya? Oh ya, kami semua kan diberi label.

__________

Baiklah.. Sahabat saya, labelnya Marl… Saya tidak ingat Marl apa, yang jelas dia merasa badannya selalu kedinginan. Tapi sebenarnya tubuhnya diselimuti hangatnya kertas itu, sama seperti saya, entah mengapa dia kedinginan. Ok, kita sebut saja dia Marl. Marl sempat bercerita bahwa dirinya berada di sebuah tempat yang dinamakan Big Apple. Saya menertawakannya, karena mana mungkin sebatang rokok bisa masuk ke dalam buah apel? Di sana, dia sempat berkeliling di dalam ruang sempit dengan seorang perempuan. Perempuan itu bekerja pada malam hari di sebuah tempat yang berisik, banyak suara manusia yang sedang bersendau gurau, banyak minuman keras di sana. Semakin malam, bunyi dentuman musik semakin ramai. Setelah suasana menjadi sepi, perempuan itu pulang bersama seorang laki-laki. Setiap malam, laki-laki yang pulang bersamanya pasti berbeda-beda. Di kamar, perempuan dan laki-lakinya pasti mengeluarkan suara mendesah. Setelah suara desahan berhenti, pasti ada satu rokok berlabel sama dengan Marl yang dikeluarkan dari ruangan sempit, dan tidak kembali lagi. Suatu malam, di ruangan sempit itu, Marl tinggal sendirian. Suara desahan sudah berhenti, dan itu menandakan saat itulah Marl harus mengakhiri hidupnya. Benar saja, dia diambil keluar. Saat percikan api sudah terlihat, tiba-tiba pintu kamar terbuka dan banyak sosok pria datang sambil memegang sesuatu di tangan dengan benda berkilau di dada sembari mengatakan “Freeze!”. Marl tidak jadi terbunuh, dan dia terlempar ke bawah kasur. Hari demi hari berlalu, hingga akhirnya dia berada di sebuah tempat sampah. Kisahnya terdengar dari rokok ke rokok hingga sampai ke telinga saya.

***

Ada lagi kisah sebatang rokok berlabel angka 234 di tubuhnya. Saya lupa dia berada di daerah mana. Yang jelas, dia bersama seorang kakek yang setiap pagi bekerja di sebuah tanah lapang berair yang menjijikan. Si 234 ini tidak tahan dengan bau yang tercium dari tubuh sang kakek. Namun jika kalian melihat kakek itu, mungkin kalian manusia akan merasa iba. Kakek itu tinggal bersama 8 anak kecil. Dia sering menyebut anak-anak kecil itu dengan “incu”. Entah apa artinya. Tubuhnya peyot, kulitnya hitam karena setiap hari terjemur matahari. Saya rasa uang yang dimilikinya sedikit. Namun entah mengapa, setiap hari pasti dia sisihkan hanya untuk membeli rokok-rokok berlabel 234. Suatu hari, sang kakek sakit. Saat 234 ini hendak dibakar, sang kakek tiba-tiba terjatuh dari tempat duduk di depan rumahnya yang terbuat dari bambu. Nasib rokok 234 ini pun sama dengan rokok Marl. Dia selamat dari maut. Namun kabar berselang, rokok 234 mendengar kabar bahwa sang kakek telah meninggal dunia karena penyakit yang bernama kanker paru-paru, dan sekelompok manusia menyalahkan kami sebagai penyebabnya.

__________

Sampai detik ini, saya tidak mengerti. (Gimana rokok bisa ngerti, rokok kan gak punya otak, bego –y&c)

Yaaa pokoknya, saya heran dengan tingkah manusia. Mereka menciptakan kami. Mereka membunuh kami. Tapi ketika mereka tertimpa masalah, jatuh sakit, tidak punya uang, gigi menjadi kuning, dan lain sebagainya, manusia pasti menyalahkan kami. Apa salah kami? Kami diciptakan sekelompok manusia tamak, jadi salahkanlah mereka. Mengapa kami harus diharamkan? Apa salah kami? Kami kan pada dasarnya juga ciptaan Tuhan, yang kemudian dikontaminasi oleh.. aduh saya lupa.. namanya.. kalau tidak salah.. aduh apa ya?! hmmmm, yang satu bernama ‘tar’.. yang satu.. yang satunya ‘nikolas’ kalau tidak salah.. (Seharusnya nicotine, dasar rokok goblog –y&c)

Intinya, saya ingin sebuah penegakan hak asasi rokok! Kami ada bukan untuk dibunuh. Ya mungkin memang semua makhluk ada di dunia hanya untuk mati, namun tidak mati untuk percuma. Keberlangsungan hidup seperti yang dialami 234 dan Marl hanyalah keberuntungan semata. Sangat jarang dari kami mati bermanfaat. Ada yang mati karena pemiliknya bolos sekolah, pemiliknya mabuk, pemiliknya bersimbah darah karena membunuh, pemiliknya bertukar uang (Ini maksudnya judi –y&c), ada yang pemiliknya hanya di depan komputer untuk ngetweet (Hahaha, ini bukan gw. Iseng aja masukin istilah ‘ngetweet’ biar berkesan uptodate banget si rokok A ini :p –y&c).

__________

Banyak manusia bilang bahwa rokok tidak baik. Namun tahukah kalian bahwa pendapatan yang diraih pemerintah Indonesia dari pita cukai rokok adalah sebesar Rp 56,4 triliun?! Penerimaan ini hanya dikalahkan oleh pendapatan dari PPN sebesar Rp 700 triliun (sumber: Kompas). Jika rokok dihapuskan dari bumi Indonesia, bisa dilihat betapa besar kerugian negara. Belum lagi hilangnya mata pencaharian para buruh rokok. Mungkin memang kehidupan para buruh itu tidak sejahtera, namun darimana lagi mereka harus menggantungkan hidup?! Posisi rokok saat ini sudah sangat sakral. Mungkin jika dari dulu saat belum banyak orang merokok, rokok sudah dilarang, dampak yang akan terjadi tidak akan sebesar sekarang. Salahkan siapa jika sudah begini? Semua stakeholder di negeri ini turut andil bagian untuk memikirkan bagaimana nasib ‘hak asasi rokok’ ke depan. Di satu sisi, rokok adalah sebuah tambang emas, namun di sisi lain, rokok juga sebuah bom waktu yang bisa membunuh siapa saja.

Makanya jangan sebatang-sebatang mulu!! Pikirin tu nasib rokok yang diisep, buruhnya sama bangsa dan negara!!

(Eh sumpah ini cuma random thought. Iseng banget nulis beginian pagi-pagi gak ngerti mau ngapain. Bagi yang tersinggung, maaf aja yaaaa –y&c)

Jatinangor, y&c

Thursday, April 1, 2010

The Prayer

Perkenalkan. Nama saya Jaya Amangkurat. Saya adalah putera mahkota Kerajaan Polpot yang terletak di bagian Selatan Lautan Teduh.
Tapi itu 400 tahun yang lalu. Kerajaan Polpot sudah hancur dan musnah ditelan monster laut raksasa. Tingginya ribuan hasta dan dia datang bergulung-gulung disertai gemuruh. Dalam waktu yang sangat cepat, dia langsung memorakporandakan kerajaan.
Kerajaan Polpot adalah sebuah kerajaan maritim yang sangat disegani oleh seluruh penghuni Planet Loam. Kekuasaannya tidak terhingga, kekayaan alamnya mampu menghidupi 3 juta generasi keluarga kerajaan.
Sebuah goncangan mengawali datangnya sang monster laut. Goncangan yang datang saat matahari baru saja muncul di ufuk Barat. Matahari terakhir yang dilihat Kerajaan Polpot. Apa salah kerajaan ini sehingga sekarang harus musnah tidak tersisa?

________________
Di langit ketujuh, di sebuah istana emas yang menawan, hiduplah seorang dewa dari segala dewa. Sebutlah dia Sang Mahadewa. Semua yang ada di penjuru alam, tunduk padanya.
Saat itu Mahadewa baru terjaga dari peraduannya..

“Mahadewa!! Mahadewa!! Ini gawat!!” Seorang bidadari tergopoh-gopoh terbang setelah melakukan patroli ke Planet Loam.
“Ada apa Gebi? Apa yang gawat? Saya bahkan belum mendengar doa pertama pagi ini dari penduduk alam saat kau datang mengganggu!”
“Ada seorang raja di Planet Loam yang menganggap dirinya sebagai Mahadewa. Dia sombong dan berniat menguasai satu planet. Dia sedang menyiapkan pasukannya untuk diberangkatkan besok saat matahari baru muncul dari ufuk Barat!”
 
***
Mahadewa terdiam, menunduk kemudian mengerutkan dahinya yang sangat lebar. Dia seperti sedang berpikir..
“Kenapa Kau terdiam Mahadewa? Kita harus segera bertindak!!”
“Heyyy kau mengganggu konsentrasiku! Saya sedang mendengarkan doa-doa rakyat Kerajaan Polpot.”
“Hah? Apakah saya sudah mengatakan nama kerajaan itu kepada Kau, Mahadewa?”
“Tidak perlu kau bilang pun, Saya sudah tahu! Saya Mahadewa! Bahkan kisah yang kau laporkan itu sudah Saya ketahui di mimpi tadi malam.”
***
Mahadewa beralih ke singgasanaNya.
“Gebi, tolong bawa tubuh seorang putra mahkota Kerajaan Polpot bernama Jaya Amangkurat kemari.”
“Untuk apa Mahadewa?”
“Apakah saya perlu menjawab pertanyaanmu? Saya tahu apa yang Saya lakukan. Cepatlah!”
***

Tak lama berselang, muncullah Jaya Amangkurat di hadapan Mahadewa. Tubuhnya  telanjang dan berkeringat karena dia sedang berhubungan seks saat Gebi -sang tangan kanan Mahadewa, membawanya ke langit ketujuh.
“Di.. di.. di mana ini? Sia.. pa kalian??” Jaya tertatih karena ketakutan yang berlebihan.
“Tenang saja, Jaya. Kau aman di sini bersamaKu. Kau akan menjadi saksi hidup kebesaranKu. Selamat datang di langit ketujuh. Saya adalah Mahadewa.” 
Suara Mahadewa yang besar mengguncang seluruh langit ketujuh, menggelegar bagaikan petir di siang bolong.
***
“Saya sudah mati?”
“Bukan. Kau masih hidup. Kau akan segera kuturunkan kembali ke Planet Loam jika urusan kita sudah beres”
“Apa urusan kita?”
“Mengapa ayahmu mau menganggap dirinya adalah Mahadewa? Itu sudah mencurangi hukum alam! Dan saya tidak akan membiarkan hal itu terjadi.”
“Saya tidak tahu menahu, Mahadewa. Saya hanya ditugaskan oleh ayah untuk menyerang Kerajaan Kone di sebelah Tenggara Kerajaan Polpot, besok saat matahari baru menyingsing.”
“Justru itulah! Saya tidak mau tercipta kekacauan di Planet Loam. Saya ingin kau selamat, karena itulah kau dibawa ke sini.”
“Apakah Kau akan menghancurkan Polpot?”
“Tentu saja!” Suara Mahadewa kembali menggelegar sambil menghujamkan tongkat titaniumnya ke lantai marmer singgasana yang berkilau indah.
“Tapi bagaimana dengan..”
Mereka bukan keluargamu. Kau adalah seorang anak yang diambil dari pinggir pantai. Kau diangkat sebagai anak oleh orang memalukan yang mengaku sebagai ayahmu.”
“Hah? Kenapa mereka tidak pernah mengatakannya padaku? Lalu..”
“Orangtuamu yang sebenarnya adalah sepasang kakek nenek renta di Kerajaan Kone, kerajaan yang akan kau serang esok pagi! Jika Saya tidak mencegah ini semua, ayah kandungmu akan menjadi orang pertama yang kau bunuh, disusul oleh ibumu. Kau akan menjadi anak durhaka, Jaya!”
***
Jaya berkaca-kaca. Dia tidak tahu harus berkata apa. Dia terduduk, diam, dan meraung, bergema di seluruh lorong istana emas.
“Setiap malam, orangtuamu selalu mendoakanmu. Mereka memang tidak kaya. Mereka tidak lebih miskin dari semua pemulung di Kerajaan Loam. Tapi karena doa merekalah, maka kau diselamatkan saat ini. Jika tidak karena doa mereka yang selalu meminta Saya menghapuskan dosa-dosa bejatmu, Saya tidak akan sudi mengangkat kau ke sini. Ini adalah tempat yang seharusnya terlarang bagi manusia. Saya sudah melanggar peraturan Saya sendiri karena doa tulus ayah ibumu.”
***
Tangisan Jaya Amangkurat semakin menjadi mendengarnya. Tetesan air mata Jaya terjatuh ke Planet Loam dan menjadi hujan yang segera menggenangi gurun Junub yang sangat kering di sebelah Utara Kerajaan Manana.
“Lalu, apa yang akan Kau lakukan?”
“Saya akan memusnahkan Kerajaan Polpot dari PLanet Loam. Saya tidak mau planet itu dikotori oleh perbuatan keji.”
“Tapi banyak rakyat Kerajaan Polpot yang tidak berdosa!! Bayi, anak kecil, pemuka agama, orang miskin dan renta. Apakah Kau tidak kasihan melihat mereka?”
“Saya akan lebih kasihan jika melihat mereka harus dijebloskan ke jurang api saat mereka mati nanti. Saya tidak mau mereka ikut membunuh dengan tangan mereka. Lebih baik mereka mati dan hidup di langit keenam bersama para bidadari.”
“Tapi..”
“Kau tahu apa yang selalu didoakan pertama kali oleh para orangtua di segala penjuru Kerajaan Polpot saat mereka baru membuka matanya?”
***
Jaya menggelengkan kepala
“Mereka memohon kepada Saya, agar mau memberikan yang terbaik untuk mereka, anak-anaknya, dan segenap sanak saudaranya. Dan menurut Saya, inilah yang terbaik. Itulah kekuatan doa. Yang terbaik menurut manusia, tidak selalu terbaik menurut Saya, Sang Mahadewa.”
“Baiklah, Mahadewa. Terjadilah semuanya menurut kehendakMu.”
***
Mahadewa segera menghujamkan ujung tongkat titaniumNya ke lautan di sebelah Utara, Barat, Selatan dan Timur Kerajaan Polpot. Empat gempa bumi besar segera membangunkan seluruh isi kerajaan. Kepanikan menggema di segala penjuru kerajaan. Jaya yang menyaksikannya dari langit ketujuh, hanya bisa merinding melihat kebesaran Sang Mahadewa.
Tidak sampai di situ. Tanah yang amblas di dasar lautan, segera menyebabkan perubahan tinggi muka air laut. Tsunami setinggi 50 meter. Empat tsunami raksasa dari 4 penjuru mata angin segera meratakan Kerajaan Polpot. Dalam hitungan menit, kerajaan dan seisinya hilang tidak meninggalkan jejak.
“Semua sudah selesai.”

***
Jaya mengangguk lesu.
“Apakah kau ingin bertemu kedua orangtuamu?”
“Apakah mereka mau menerima saya yang penuh dosa ini? Saya malu.”
“Tidak ada orangtua yang tidak menyayangi anaknya. Seburuk apapun anaknya, setiap orangtua pasti mau membuka pintu hatinya. Cinta mereka tulus kepadamu, Jaya.”
“Baiklah Mahadewa. Saya percaya apa yang Kau katakan.”
“Satu pesan Saya padamu. Sayangilah kedua orangtuamu. Apapun yang mereka katakan, pasti karena mereka menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Sama seperti ketika Saya menghancurkan Kerajaan Polpot, karena Saya tahu apa yang terbaik bagi makhluk ciptaan Saya.”
________________
Saya ingin kembali memperkenalkan diri.
Nama saya Jaya Amangkurat. Dan saya adalah anak dari sepasang suami istri renta yang jauh dari kekayaan materi duniawi, namun kaya akan cinta kasih dan kenikmatan langit keenam.
Saya adalah anak dari orangtua yang doanya mampu menghancurkan sebuah Kerajaan Polpot, kerajaan terbesar di Planet Loam.


Jakarta, y&c